MEMAHAMI PROSES RESPIRASI PADA HEWAN
MEMAHAMI
PROSES RESPIRASI PADA HEWAN
Oleh :
Nama ` : NURHUDIMAN
NPM : 1114121146
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Bandar Lampung
2011
HALAMAN PENGESAHAN
Judul
Makalah : Memahami Proses
Respirasi pada hewan
Tempat :
Laboratorium botani
Hari/Tanggal : Senin, 17 Oktober 2011
Nama ` : NURHUDIMAN
NPM :
1114121146
Kelompok :
5 (lima)
Jurusan :
AGROEKOTEKNOLOGI
Fakultas :
PERTANIAN
Bandar Lampung, 17
Oktober 2011
Menyetujui Asisten
Dosen,
Tia Indrawati kesuma
NPM : 0917021051
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup
adalah membutuhkan respirasi (pernapasan), baik dari organisme tingkat kecil
hingga tingkatan yang tinggi. Manusia, hewan, tumbuhan memiliki perbedaan dalam
respirasiya. Respirasi adalah
suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik
menjadi CO2, H2O dan energi . Respirasi dan metabolisme
karbon yang terkait di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa
karbon dengan cara yang terkontrol untuk digunakan oleh sel
atau jaringan.
(Sumber :
www.wikipedia.com)
Pada
waktu yang bersamaan, respirasi menghasilkan banyak senyawa karbon yang
dibutuhkan sebagai prekursor untuk biosintesis senyawa organik lainnya.
Respirasi aerob merupakan proses yang umum terjadi dalam hampir semua organisme
eukariot, dan secara umum proses respirasi di dalam tumbuhan mirip dengan apa
yang dijumpai di dalam hewan dan eukoriot tingkat rendah, tetapi beberapa aspek
khusus dari respirasi tumbuhan membedakannya dari respirasi hewan. (Sumber
: www.wikipedia.com)
Proses
respirasi pada hewan tersebut ada laju reaski yang bisa dihitung dan
berbeda-beda setiap beratnya.Oleh karena itu dalam makalah ini akan di jelaskan
hasil praktik pengamatan terhadap cara dan perhitungan laju reaksi pada
respirasi pada hewan. Dan hewan yang akan di coba untuk penngamatan adalah
jangkrik.
B. Tujuan
a.
Sebagai salah satu penialaian praktik
biologi pada materi respirasi pada hewan
b.
Mengamati respirasi pada hewan yaitu
jangkrik
c.
Dapat menghitung laju respirasi pada
hewan
d.
Menambah wawasan dalam ilmu sains
terutama pada proses respirasi
e.
Dapat menggunakan dan menerapkan apa
yang telah diteti untuk diperluas dengan wawasan yang lebih berkembang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pernapasan
adalah proses pertukaran gas O2 dengan CO2 sebagai hasil
metabolisme normal dan zat yang dibutuhkan atau diperlukan dalam pernapasan itu
sendiri. Pernapasan merupakan pembakaran (metabolisme atau disimilasi)
dimana energi yang disimpan tadi dikembalikan lagi untuk mengembalikan
proses-proses kehidupan atau respirasi adalah proses perombakan energi yang
tersimpan untuk dimanfaatkan dalam proses-proses kehidupan. (Sumber: aadesanjaya.blogspot.com).
Respirasi atau
oksigen glukosa adalah merupakan sumber energi yang utama untuk
kebanyakan sel. Pada waktu glukosa dipecah dalam suatu rangkaian reaksi
enzimatis, beberapa energi disebabkan dalam bentuk ikatan fosfat berenergi
tinggi (ATP) dan sebagian lagi hilang sebagai panas. Proses utama respirasi adalah
mobilisasi senyawa organik dan oksidasi senyawa. Senyawa tersebut secara
terkendali untuk membebaskan energi bagi pemeliharaan dan perkembangan
tumbuhan. (Sumber:
aadesanjaya.blogspot.com).
Proses respirasi yakni
proses pengoksidasian metabolit oleh organisme saat ada oksigen untuk menangkap
energi yang di kandung dalam ikatan-ikatan metabolit. Respirasi tidak hanya
menghasilkan energi, melainkan juga produk-produk samping berupa karbon
dioksida dan air. Kemampuan organisme bersel tunggal untuk melakukan pertukaran
gas semakin terbatas seiring makin meningkatnya ukurannya. Hal itu terjadi
karena permukaan sel dan volumenya membedakan aktivitas tubuh yang dilakukan.
Dengan demikian batas atas ukuran sel ditentukan oleh batasan-batasan fisik
yang diberikan difusi sederhana pada pertukaran gas. (Sumber : George H. Fried)
Secara
metabolik, hampir semua avertebrata tidak seaktif vertebrata homoetermik
seperti burung dan mamalia. Hal itu mengurangi kebutuhan akan pertukaran gas
yang sangat cepat, tetapi tidak menghilangkan sama sekali kebutuhan akan
mekanisme untuk melengkapi difusi. (Sumber
: George H. Fried)
Pada
belalang (jangkrik) untuk membawa udara dengan lebih cepat kebagian interior
dikenal sistem trakea, yang merupakan
ciri khas berbagai serangga dan arakmida (laba-laba). Sistem trakea adalah
sebuah sistem tabung-tabung yang menyebar keseluruh tubuh organisme dan
mengangkut udara ke sel-sel individu. Sistem tersebut analog dengan stomata dan
ruang udara pada tumbuhan hijau. (Sumber
: George H. Fried)
Tabung-tabung
yang lebih besar dikenal sebagai trakea dan
berasal dari bukaaan disepanjang permukaan tubuh, yang disebut Spirakula (spirade), sprakula, seperti
stomata pada daung, dapat membuka dan menutup sesuai dengan kerja katup-katup. (Sumber : George H. Fried)
Trakea
yang besar dijaga tetap sebagai tabung-tabung terbuka oleh cincin penyangga
dari kitin, suatu polisakarida mengandung nitrogen yang kokoh, yang juga
ditemukan pada dinding sel fungi. Sistem trakea sebenarnya merupakan pengganti
bagi distribusi gas yang diangkat darah ke dan dari organ-organ respirasi. (Sumber : George H. Fried)
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari
lingkungan. Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel
tumbuhan dengan jalan difusi melalui ruang antar sel,
dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian juga halnya dengan CO2
yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang
antar sel. Sedangkan untuk menghitung respirasi dapat menggunakan koefisian
respirasi (KR), yaitu perbandingan CO2 dengan O2
(Kamariyani 1984).
Respirasi adalah
suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2,
H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks,
dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai
oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah
setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa
yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan
biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi
adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Karbohidrat merupakan
substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat
beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa
jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan
protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi
karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut:
C6H12O6 + O2
→
6CO2 + H2O+energi
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain:
Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.Ketersediaan Oksigen. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.Ketersediaan Oksigen. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Ketersediaan oksigen
akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi
masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama.
Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju
respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi
jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Suhu Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi
tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi
akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini
tergantung pada masing-masing spesies.Tipe dan umur tumbuhan. Masing-masing
spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan
tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Tumbuhan muda
menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua.
Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan. Serangga
mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk
mengengkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan
CO2 dari tubuh. (Sumber :
rifzone.blogspot.com)
Trsechea memanjang dan
bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan
tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak
membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
BAB III METODE PENELITIAN
1.
Tempat dan waktu
Percobaan
ini dilakukan di laboratorium biologi pada tanggal, 17 Oktober 2011, pukul 10.00 sd 12.00 WIB.
2.
Alat
dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan yaitu
:
1. Jangkrik
adalah hewan yang akan di amati proses respirasinya
2. Tisu
digunakan untuk alas di dalam respirometer dan sebagai tempat resapnya KOH
3. KOH
yaitu digunakan untuk menyerap CO2
4. Eosin sebagai indikatornya
5. Isolasi(lakban)
yaitu untuk memperkuat hubungan tabung respirometer dan pipa respirometernya
6. Respirometer
yaitu di gunakan untuk mengukur laju reaksi
7. Alat
suntik yaitu digunakan memasukan eosin ke dalam pipa respirometer
3.
Cara Kerja
1. Timbang
seekor jangkrik dan dicatat beratnya
2. Masukan
tisu yang telah dibasahi larutan KOH kedalam respirometer
3. Masukan
juga jankriknya
4. Hubungkan
tabung respiprometer dan pipa berskala respirometer dan perkuat dengan isolasi
5. Masukan
2 tetes Eosin kedalam pipa berskala respirometer
6. Lalu
di amati perubahan skalanya setelah sepuluh menit
7. Dan
diulangi dengan berat yang berbeda.
BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
Dari hasil pratik pengamatan respirasi
jangkrik di dapat data yaitu :
Sampel
|
Berat Tubuh
|
Laju Reaksi
|
1. Jangkrik
|
0,8 gram
|
0,18
ml
|
2. Jangkrik
|
0,7 gram
|
0,49
ml
|
Rata-rata
|
0,75
gram
|
0,335
ml
|
Simpangan
baku
|
0,2
gram
|
B. Pembahasan
Setelah
dilakukan pengamatan pada hewan (jangkrik) ternyata dalam respirasinya mengalam
perbedaan laju reaksi. Menandakan berat tubuh jangkrik mempengaruhi cepat
tidaknya suatu respirasi yang dihasilkan. Semakin ringan jangkrik maka
reaksinya semakin cepat juga. Tetapi bisa juga kemungkinan keadaan jangkrik itu
sendiri yang bisa menghasilkan proses reaksi lebih cepat dan lambat. Laju respirasi dapat dipengaruhi beberapa faktor antara
lain :
1.
Ketersediaan substrat
Karbohidrat
merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam hewan tinggi. Hewan dengan kandungan substrat yang
rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian
sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan
meningkat.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan
oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut
berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada hewan yang sama.
3. Suhu
Semakin
tinggi suhu, semakin tinggi laju respirasi. Laju reaksi respirasi akan
meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini
tergantung pada masing-masing spesies.
3. Tipe dan umur hewan
Masing-masing spesies tumbuhan
memiliki perbedaan metabolisme, dengan demikian kebutuhan hewan untuk berespirasi akan berbeda pada
masing-masing spesies. Hewan kecil menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding hewan
yang besat. Demikian pula pada
organ hewan yang sedang
dalam masa pertumbuhan.
BAB V KESIMPULAN
Dari
praktik pengamatan respirasi pada hewan di ambil kesimpulan :
1.
Proses pengamatan respirasi pada hewan
berjalan dengan baik karena faktor ketersediaan subtrat, ketersediaan oksigen,
suhu, dan tipe umur hewan
2.
Semakin tua hewan semakin berkurang kecepatan
respirasinya dan seballiknya semakin muda hewan semakin cepat reaksinya.
3.
Proses respirasi tersebut tergolong
aerob karena membutuhkan oksigen
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.iupac.org/reports/provisional/abstract01/rondinini_prs.pdf. A proposal to revise the current IUPAC 1985 and ISO
31-8 definition of respiration.
http//www.wikipedia.com
George H. Fried, Ph.D, dkk, Teori dan soal-soal biologi, Erlangga: Jakarta, 2005
http
: rifzone.blogspot.com
http
: aadesanjaya.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar