Jumat, 08 Maret 2013

MEMAHAMI PROSES RESPIRASI PADA HEWAN

MEMAHAMI PROSES RESPIRASI PADA HEWAN


Oleh :
             Nama     `        : NURHUDIMAN
      NPM               : 1114121146







JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Bandar Lampung
2011






HALAMAN PENGESAHAN

Judul Makalah            : Memahami Proses Respirasi pada hewan
Tempat                       : Laboratorium botani
Hari/Tanggal               : Senin, 17 Oktober 2011
Nama   `                     : NURHUDIMAN
NPM                          : 1114121146
Kelompok                  : 5 (lima)
Jurusan                       : AGROEKOTEKNOLOGI
Fakultas                      : PERTANIAN




Bandar Lampung, 17 Oktober 2011
Menyetujui Asisten Dosen,



Tia Indrawati kesuma
                                                            NPM : 0917021051






BAB I PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah membutuhkan respirasi (pernapasan), baik dari organisme tingkat kecil hingga tingkatan yang tinggi. Manusia, hewan, tumbuhan memiliki perbedaan dalam respirasiya. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi . Respirasi dan metabolisme karbon yang terkait di dalamnya melepas energi yang tersimpan di dalam senyawa karbon dengan cara yang terkontrol untuk digunakan oleh sel atau jaringan. (Sumber : www.wikipedia.com)
Pada waktu yang bersamaan, respirasi menghasilkan banyak senyawa karbon yang dibutuhkan sebagai prekursor untuk biosintesis senyawa organik lainnya.  Respirasi aerob merupakan proses yang umum terjadi dalam hampir semua organisme eukariot, dan secara umum proses respirasi di dalam tumbuhan mirip dengan apa yang dijumpai di dalam hewan dan eukoriot tingkat rendah, tetapi beberapa aspek khusus dari respirasi tumbuhan membedakannya dari respirasi hewan. (Sumber : www.wikipedia.com)
Proses respirasi pada hewan tersebut ada laju reaski yang bisa dihitung dan berbeda-beda setiap beratnya.Oleh karena itu dalam makalah ini akan di jelaskan hasil praktik pengamatan terhadap cara dan perhitungan laju reaksi pada respirasi pada hewan. Dan hewan yang akan di coba untuk penngamatan adalah jangkrik.
B.       Tujuan
a.              Sebagai salah satu penialaian praktik biologi pada materi respirasi pada hewan
b.             Mengamati respirasi pada hewan yaitu jangkrik
c.              Dapat menghitung laju respirasi pada hewan
d.             Menambah wawasan dalam ilmu sains terutama pada proses respirasi
e.              Dapat menggunakan dan menerapkan apa yang telah diteti untuk diperluas dengan wawasan yang lebih berkembang
  

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pernapasan adalah proses pertukaran gas O2 dengan CO2 sebagai hasil metabolisme normal dan zat yang dibutuhkan atau diperlukan dalam pernapasan itu sendiri. Pernapasan merupakan pembakaran (metabolisme atau disimilasi) dimana energi yang disimpan tadi dikembalikan lagi untuk mengembalikan proses-proses kehidupan atau respirasi adalah proses perombakan energi yang tersimpan untuk dimanfaatkan dalam proses-proses kehidupan. (Sumber: aadesanjaya.blogspot.com).
Respirasi atau oksigen glukosa adalah merupakan sumber energi yang utama untuk kebanyakan sel. Pada waktu glukosa dipecah dalam suatu rangkaian reaksi enzimatis, beberapa energi disebabkan dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi (ATP) dan sebagian lagi hilang sebagai panas. Proses utama respirasi adalah mobilisasi senyawa organik dan oksidasi senyawa. Senyawa tersebut secara terkendali untuk membebaskan energi bagi pemeliharaan dan perkembangan tumbuhan. (Sumber: aadesanjaya.blogspot.com).
­­­          Proses respirasi yakni proses pengoksidasian metabolit oleh organisme saat ada oksigen untuk menangkap energi yang di kandung dalam ikatan-ikatan metabolit. Respirasi tidak hanya menghasilkan energi, melainkan juga produk-produk samping berupa karbon dioksida dan air. Kemampuan organisme bersel tunggal untuk melakukan pertukaran gas semakin terbatas seiring makin meningkatnya ukurannya. Hal itu terjadi karena permukaan sel dan volumenya membedakan aktivitas tubuh yang dilakukan. Dengan demikian batas atas ukuran sel ditentukan oleh batasan-batasan fisik yang diberikan difusi sederhana pada pertukaran gas. (Sumber : George H. Fried)
            Secara metabolik, hampir semua avertebrata tidak seaktif vertebrata homoetermik seperti burung dan mamalia. Hal itu mengurangi kebutuhan akan pertukaran gas yang sangat cepat, tetapi tidak menghilangkan sama sekali kebutuhan akan mekanisme untuk melengkapi difusi. (Sumber : George H. Fried)
            Pada belalang (jangkrik) untuk membawa udara dengan lebih cepat kebagian interior dikenal sistem trakea, yang merupakan ciri khas berbagai serangga dan arakmida (laba-laba). Sistem trakea adalah sebuah sistem tabung-tabung yang menyebar keseluruh tubuh organisme dan mengangkut udara ke sel-sel individu. Sistem tersebut analog dengan stomata dan ruang udara pada tumbuhan hijau. (Sumber : George H. Fried)
            Tabung-tabung yang lebih besar dikenal sebagai trakea dan berasal dari bukaaan disepanjang permukaan tubuh, yang disebut Spirakula (spirade), sprakula, seperti stomata pada daung, dapat membuka dan menutup sesuai dengan kerja katup-katup. (Sumber : George H. Fried)
            Trakea yang besar dijaga tetap sebagai tabung-tabung terbuka oleh cincin penyangga dari kitin, suatu polisakarida mengandung nitrogen yang kokoh, yang juga ditemukan pada dinding sel fungi. Sistem trakea sebenarnya merupakan pengganti bagi distribusi gas yang diangkat darah ke dan dari organ-organ respirasi. (Sumber : George H. Fried)
Proses respirasi diawali dengan adanya penangkapan O2 dari lingkungan. Oksigen yang digunakan dalam respirasi masuk ke dalam setiap sel tumbuhan dengan jalan difusi melalui ruang antar sel, dinding sel, sitoplasma dan membran sel. Demikian juga halnya dengan CO2 yang dihasilkan respirasi akan berdifusi ke luar sel dan masuk ke dalam ruang antar sel. Sedangkan untuk menghitung respirasi dapat menggunakan koefisian respirasi (KR), yaitu perbandingan CO2 dengan O2 (Kamariyani 1984).
            Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu). Secara umum, respirasi karbohidrat dapat dituliskan sebagai berikut:
 C6H12O6 + O2   6CO2 + H2O+energi
Laju respirasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
Ketersediaan substrat. Tersedianya substrat pada tanaman merupakan hal yang penting dalam melakukan respirasi. Tumbuhan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.Ketersediaan Oksigen. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada tumbuhan yang sama. Fluktuasi normal kandungan oksigen di udara tidak banyak mempengaruhi laju respirasi, karena jumlah oksigen yang dibutuhkan tumbuhan untuk berrespirasi jauh lebih rendah dari oksigen yang tersedia di udara. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Suhu  Pengaruh faktor suhu bagi laju respirasi tumbuhan sangat terkait dengan faktor Q10, dimana umumnya laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.Tipe dan umur tumbuhan. Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolsme, dengan demikian kebutuhan tumbuhan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Tumbuhan muda menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding tumbuhan yang tua. Demikian pula pada organ tumbuhan yang sedang dalam masa pertumbuhan. Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi untuk mengengkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. (Sumber : rifzone.blogspot.com)
Trsechea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigama, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa. Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur. (Sumber : rifzone.blogspot.com)




BAB III METODE PENELITIAN

1.        Tempat dan waktu
Percobaan ini dilakukan di laboratorium biologi pada tanggal, 17 Oktober 2011,  pukul 10.00 sd 12.00 WIB.

2.        Alat dan bahan
Alat dan bahan yang digunakan yaitu :
1.      Jangkrik adalah hewan yang akan di amati proses respirasinya
2.      Tisu digunakan untuk alas di dalam respirometer dan sebagai tempat resapnya KOH
3.      KOH yaitu  digunakan untuk menyerap CO2
4.      Eosin  sebagai indikatornya
5.      Isolasi(lakban) yaitu untuk memperkuat hubungan tabung respirometer dan pipa respirometernya
6.      Respirometer yaitu di gunakan untuk mengukur laju reaksi
7.      Alat suntik yaitu digunakan memasukan eosin ke dalam pipa respirometer

3.        Cara Kerja
1.      Timbang seekor jangkrik dan dicatat beratnya
2.      Masukan tisu yang telah dibasahi larutan KOH kedalam respirometer
3.      Masukan juga jankriknya
4.      Hubungkan tabung respiprometer dan pipa berskala respirometer dan perkuat dengan isolasi
5.      Masukan 2 tetes Eosin kedalam pipa berskala respirometer
6.      Lalu di amati perubahan skalanya setelah sepuluh menit
7.      Dan diulangi dengan berat yang berbeda.




BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A.      Hasil Pengamatan
Dari hasil pratik pengamatan respirasi jangkrik di dapat data yaitu :
Sampel
Berat Tubuh
Laju Reaksi
1.    Jangkrik
0,8 gram
0,18 ml
2.    Jangkrik
0,7 gram
0,49 ml
Rata-rata
       0,75 gram
0,335 ml
Simpangan baku
       0,2 gram
 ml

B.       Pembahasan
Setelah dilakukan pengamatan pada hewan (jangkrik) ternyata dalam respirasinya mengalam perbedaan laju reaksi. Menandakan berat tubuh jangkrik mempengaruhi cepat tidaknya suatu respirasi yang dihasilkan. Semakin ringan jangkrik maka reaksinya semakin cepat juga. Tetapi bisa juga kemungkinan keadaan jangkrik itu sendiri yang bisa menghasilkan proses reaksi lebih cepat dan lambat. Laju respirasi dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain :

1. Ketersediaan substrat
Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam hewan tinggi. Hewan dengan kandungan substrat yang rendah akan melakukan respirasi dengan laju yang rendah pula. Demikian sebliknya bila substrat yang tersedia cukup banyak maka laju respirasi akan meningkat.
2. Ketersediaan oksigen
Ketersediaan oksigen akan mempengaruhi laju respirasi, namun besarnya pengaruh tersebut berbeda bagi masing-masing spesies dan bahkan berbeda antara organ pada hewan yang sama.
3. Suhu
Semakin tinggi suhu, semakin tinggi laju respirasi. Laju reaksi respirasi akan meningkat untuk setiap kenaikan suhu sebesar 10oC, namun hal ini tergantung pada masing-masing spesies.
3.      Tipe dan umur hewan

Masing-masing spesies tumbuhan memiliki perbedaan metabolisme, dengan demikian kebutuhan hewan untuk berespirasi akan berbeda pada masing-masing spesies. Hewan kecil menunjukkan laju respirasi yang lebih tinggi dibanding hewan yang besat. Demikian pula pada organ hewan yang sedang dalam masa pertumbuhan.






BAB V KESIMPULAN

Dari praktik pengamatan respirasi pada hewan di ambil kesimpulan :
1.    Proses pengamatan respirasi pada hewan berjalan dengan baik karena faktor ketersediaan subtrat, ketersediaan oksigen, suhu, dan tipe umur hewan
2.    Semakin tua hewan semakin berkurang kecepatan respirasinya dan seballiknya semakin muda hewan semakin cepat reaksinya.
3.    Proses respirasi tersebut tergolong aerob karena membutuhkan oksigen

DAFTAR PUSTAKA

http://www.iupac.org/reports/provisional/abstract01/rondinini_prs.pdf.  A proposal to revise the current IUPAC 1985 and ISO 31-8 definition of respiration.

http//www.wikipedia.com

George H. Fried, Ph.D, dkk, Teori dan soal-soal biologi, Erlangga: Jakarta, 2005

http : rifzone.blogspot.com
http : aadesanjaya.blogspot.com



Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *